Mereka Yang Terusir Oleh Uangnya Sendiri

Di kota-kota penyanggah atau penopang Jakarta seperti bekasi, depok, tangerang dlsb., gampang anda jumpai keluarga berumur yang suka bercerita nostalgia atas rumahnya yang dulu. mereka senang berkisah: “…dahulu saya bercokol di…”, lokasi yang dimaksud rata-rata masa ini sudah jadi sentral perkantoran alias bazar industri bergengsi di jakarta. apa yang ‘mengusir’ mereka dari lokasi bercokol aslinya itu ke lokasi tinggalnya kini? tanpa mereka sadari, sesungguhnya uang mereka sendirilah yang turut jadi faktornya. kenapa dapat?

Alasan hidup dari insiden serupa ini lagi dapat anda lihat antara lain di satu buah masjid berumur yang masih populer diantara gugusan bangunan perkantoran pencakar langit di area kuningan. di hari jum’at kala masjid itu dipadati oleh banyak orang kantoran, terdapat sedikit jama’ah yang enggak tampak serupa orang kantoran.

Rata-rata mereka umurnya telah berumur, memakai sarung alias baju serta hadir dari lokasi yang jauh. beres sholat jum’at mereka enggak langsung berbalik, mereka duduk-duduk di emperan masjid dengan melihat gedung-gedung berpangkat-pangkat di hadapannya. atas mata berkilauan, mereka mengenang era kemudian.




Dengan melihat kawan duduknya, mereka mulai mengenang satu per satu “…dulu rumahmu di situ, rumahku di sebelahnya, sang fulan di belakangnya …dst”. mereka pula mulai saling bersoal, “si ‘abdullah’ yang dulu setidaknya giat ke masjid kini dimana betul? ” enggak terdapat yang dapat bereaksi karna enggak terdapat yang ingat kemana perginya bungkus ‘abdullah’ yang dimaksud.

Terlebih lagi terdapat yang bersoal: ‘…dimana betul penghantar anda yang dulu…? ’, yang ditanya bereaksi: “itulah…, durasi khutbah mulanya kala khottib mulai ambil telunjuk serta bertempik ‘…yaa ayyuhal ladzi na amanu.. ’…saya kenapa jadi ingat penghantar anda yang dulu, atas suaranya yang eksklusif memanggil dari arena ‘…yaa ayyuhal ladzi na amanu…”

Setelah itu atas melimpahkan air mata beliau meneruskan: “…kita ndak nyangka, banyak orang yang dulu diseru atas ajakan “yaa ayyuhal ladzi na amanu” – ialah kita-kita ini, dapat terbuang dari lokasi ini – tidak tahu oleh siapa, yang nyata para pemilik gedung-gedung penckar langit itu enggak hadir ke masjid ini buat sholat jum’at…”.

Di lagi dialog kancap kerinduan era kemudian ini aku nimbrung dalam dialog mereka. kemudian aku bersoal, gimana prosesnya dulu mereka kelenyapan rumah mereka. salah seseorang diantaranya – ucap aja bungkus haji – mengartikan atas rinci atas ingatannya yang lagi tajam.

Sehabis kesepakatan yang jauh, akibatnya bungkus haji akur buat melepaskan tanahnya buat terbuat bangunan perkantoran. satu hari menjelang pelunasan, barid si juragan yang membeli tanah bungkus haji bertandang ke rumah bungkus haji serta memberi alamat. kalau biar mudahnya bisnis pelunasan, bungkus haji dibukakan buku tabangan di bank x – serta bungkus haji nurut aja.

Sehabis hari h – hari bisnis pelunasan, bungkus haji menadah buku dana, atas selisih nilai serupa yang disetujui. sebagian hari sehabis menadah buku dana itu, bungkus haji didatangi lagi oleh barid si juragan – intinya menyoalkan bila bungkus haji bakal alih dari rumahnya.

Sehabis itu sang barid lalu kerap bertandang ke bungkus haji, hingga bungkus haji risih serta lekas pergi walaupun belum memperoleh rumah pengganti yang disukainya. enggak hingga 10% dari selisih tabungannya yang beliau pakailah buat membeli rumah ‘sementara’ serta lebihnya 90% konsisten terletak di bank yang serupa.

Akhirnya bungkus haji anyar ingat kalau juragan yang membeli rumahnya, pula juragan yang serupa yang ada bank – dimana bungkus haji mengabadikan uangnya hingga bertahun-tahun setelah itu. atas bahasanya seorang diri yang biasa bungkus haji-pun akibatnya mengerti: “ …jadi aku diusir dari rumah aku oleh uang aku seorang diri, rumah aku diganti atas buku dana, lha yang beli ndak pergi apa-apa, insan uang aku konsisten terletak di banknya hingga berpuluh tahun! – aku cuma ambil bunganya buat hidup satu hari hari”.

Cerita seperti ini biasa sekali berlangsung di zaman kala berlangsung asymmetric capital access – akses capital yang enggak harmonis antara bungkus haji atas juragan pemilik bank, serta pula juragan lain yang ada akses angsuran perbankan.

Pemilik asset riil – serupa rumah, bustan, kebun dlsb – dapat atas gampang kelenyapan assetnya oleh pemilik akses aktiva. pengusaha-pengusaha yang ada akses angsuran perbankan, dapat atas gampang memiliki kebanyakan asset kapling di jakarta serta sekelilingnya, pula di kota-kota besar lainnya. sementara pemilik asset riil berwujud tanah, terbuang ke bibir serta lalu ke bibir yang kian jauh.

Siapa yang memasok harta mereka untuk membeli lahan-lahan itu? Betul anda, Andalah yang menaruh uang anda di bank – serupa atas uang bungkus haji itu di berdasarkan. tanpa anda sadari kala anda meletakkan uang di bank – anda enggak ingat buat apa uang anda dipakai serta siapa yang memakainya, dapat jadi uang tersebutlah yang mengusir anda dari rumah anda serupa kodrat bungkus haji.

Serta enggak cuma uang di bank, keadaan yang serupa yang berlangsung atas uang anda yang terkubur di anggaran pensiun, asuransi dlsb. pucuk dari buat apa serta oleh siapa pemakaian uang anda itu – anda enggak sempat ingat. sedangkan mendatang anda tentu ditanya buat apa aja uang alias arta yang anda kumpulkan selagi anda hidup di bumi, gimana bila tanggapannya ialah anda enggak ingat?

Komentar